Kamis, 08 Maret 2018

"Stigma, 2016" (Part 1)

1. Perkenalan

Aku perempuan, dan kata orang aku manis. Kulitku cokelat dan mataku tidak sipit, badanku juga kecil dan tidak tinggi semampai. Aku tidak tahu akan memulainya dari mana, yang jelas aku bercerita agar orang tahu perasaanku yang sebenarnya. Semuanya menganggapku "wah enaknya punya pacar orang Korea', tapi mereka tidak pernah lebih dulu bertanya, "apa kamu bahagia?"

Aku ingin mematahkan khayalan tinggi anak jaman sekarang, tapi aku juga ingin mematahkan stigma buruk tentang orang Korea, pacarku. Demam drama Korea dan musik Kpop sudah menjamur di Indonesia, aku sendiri sebagai Warga Negara Indonesia yang cinta dengan budaya Tanah Air juga kadang menyukai lagu-lagu Kpop dan sering menonton drama Korea. Tapi aku tidak pernah menyangka, dia yang bukan tipeku tiba-tiba datang dari Negeri seberang mengatakan cinta hari itu.

Aku bercerita kepada penulis, Noona Writer, tentang bagaimana menyampaikan kisahku ke mereka agar mereka tahu bagaimana aku yang sesungguhnya. Aku bukan artis, apalagi anak Presiden. Aku hanya seseorang yang kadang khawatir dengan khayalan tingkat tinggi para anak muda jaman sekarang yang terlalu mengidolakan idolanya. Apa tidak boleh mengidolakan sang bintang? Boleh, dengan sewajarnya. Maka dari itu aku meminta tolong kepada Noona Writer untuk menuliskan kisahku, agar mereka tahu kahyalannya tidak akan seindah kenyataannya.

Noona Writer bukan teman dekatku, bukan sahabatku, apalagi kekasih gelapku. Mungkin dia seolah jembatan, atau perantara aku untuk memberikan sedikit pengertian dari apa saja yang aku alami selama ini. Jadi semua yang aku katakan, murni kata-kataku. Jika perlu dikomentari, komentari perbuatanku, bukan tulisannya.

Aku akan membaginya ke dalam beberapa bab. Aku ingin lebih detail menceritakan bagaimana aku menjalani hidupku di masa muda. Seorang gadis yang sangat cinta dengan budaya Indonesia, justru kepincut dengan pemuda Korea yang cuma numpang main. Bismillahirahmanirrahim...aku menceritakan mulai dari sekrang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

"Stigma, 2016" (Part 5)

5. Video Call Perdana Aku tahu mungkin banyak pembaca yang membayangkan seperti apa rasanya pacaran dengan komunikasi lewat bahasa yang be...