4. Kembali Ke Korea Selatan
Awalan cinta yang manis, tapi seperti drama FTV. Belum ada satu jam, dia sudah menyatakan cinta. Ah tidak, tepatnya seminggu lalu, di pandangan pertama dia untukku di sanggar Bu Les. Kami melanjutkan chatting setelah dia menyatakan cinta di chatting pertama kami. Dia bilang, dia sedang di bandara dan akan kembali ke Korea, study tour-nya sudah selesai. Aku tidak pernah membayangkan akan punya pacar orang Korea, ini nyata dan bukan drama. Aku juga tidak pernah menyangka akan menjalani hubungan LDR sejauh ini. Berbeda Tanah Air, berbeda daratan, menyebrangi lautan luas, dan mendengarkan bahasa alien setiap saat.
Awalnya aku tidak menganggap ini serius, ah pasti ini hanya cinta-cintaan biasa. Dia pasti lupa aku, pasti, tidak mungkin tidak. Ketika dia berpamitan akan kembali ke Negaranya, aku hanya bisa bilang "have a nice trip (semoga perjalananmu menyenangkan)". Tapi dia membalas kata-kataku dengan minta maaf.
"I'm sorry (aku minta maaf)," kata dia.
Aku tanya kenapa, tapi dia hanya membalasnya dengan jawabannya bahwa dia akan menemuiku dengan segera setelah hari itu. Hari itu, hari terakhir dia ada di Indonesia, Negaraku. "I will meet you (aku akan bertemu denganmu)," katanya. Entah kenapa, itu menjadi sebuah harapan untukku, untuk diriku yang tidak tahu menahu dia itu siapa. Seperti di Negeri dongeng, tapi dia cintaku sejak saat itu. Aku balas "iya", aku akan menunggunya, menunggu si mata sipit kembali ke Indonesia. Entah itu harapan bohong, atau hanya bercanda, tapi aku tidak yakin.
Lucunya, dia masih sempat memperkenalkan dirinya sebelum take off. Dia bertanya apakah aku tahu usianya. Ah aku pikir, usia adalah hal sensitif untuk Negara Korea, aku tidak pernah mau bertanya itu, tapi dia mengatakannya sendiri. Betapa terkejutnya aku, ternyata dia masih pelajar. Dia berusia 2 tahun lebih muda dari pada aku. Oh my Godness, aku pacaran dengan berondong.
Dia berbalik bertanya berapa umurku, dia menebak usiaku setahun lebih tua. Aku menyebutkan usiaku, dan dia tidak terkejut.
"I'm older than you. 20 (aku lebih tua dari kamu, aku 20 tahun)" kataku.
"noona. Saranghaeyo (kakak, aku mencintamu)" Dia sontak memanggil aku noona. Sebutan noona diperuntukkan laki-laki yang lebih muda dari pada seorang wanita. Noona sama dengan kakak, dari laki-laki ke perempuan. Kalau laki-laki ke kakak laki-laki sebutannya Hyung. Tapi aku tidak suka disebut noona, seolah-olah aku lebih tua lebih dari 5 tahun. Sementara sekarang, dia pacarku.
"nado, saranghaeyo (sama aku juga, aku mencintaimu). Don't call me noona (Jangan panggil aku noona)."
Obrolan kami berlanjut, aku ingin obrolan ini mengalir jauh dan lama. Sampai hujan berhenti dan aku lupa niatku untuk ke warung mbak Ti. Aku mengucapkan terimakasih karena dia sudah mau meluangkan sedikit waktunya untuk menari bersamaku saat acara penyambutan di sanggar. Dia kemudian membahas bagaimana kami akan berkomunikasi nantinya. LDR kami terlalu jauh. Dia bertanya apa tahu aplikasi Skype, aku tahu tapi tidak punya akunnya.
Aku tidak yakin kami bisa bertemu lagi, aku mengabaikan permintaan membuat akun Skype dan memulai lebih dulu mengatakan perpisahan. Aku bilang aku mau tidur "I have go to sleep now. Gwaenchanhayo? (aku harus pergi tidur sekarang. Tidak apa-apa?)". Dia bilang sedang tidak baik dan take off jam 11 malam.
Oiya, aku belum memperkenalkan namanya. Namanya Shin Hyo Chang. Hyochang, kamu bisa memanggilnya seperti itu, marganya Shin. Hyochang bertanya apakah bahasa Korea susah, dan aku jawab aku berusaha semaksimal mungkin untuk mengerti dan bisa mengucapkannya dengan baik. Dia juga berjanji, akan belajar bahasa Indonesia untuk berkomunikasi lebih baik denganku.
Aku sudah pamit tidur, tapi masih tidak bisa tidur. Obrolan masih berlanjut, sampai dia take off.
"guende...why you love me? (ngomong-ngomong...kenapa kamu mencintaiku?)" tanyaku ke Hyochang.
Tanpa basa basi "When I saw you, I felt flutter. Can you understand? Cheoeoumbwasseuldae neomu yeppeosseoyo (Ketika aku melihatmu, aku merasa jantungku dag dig dug. Bisakah kamu mengerti? Saat pertama kali aku lihat kamu, kamu cantik)."
"Yes, I understand. Gomawoyo. Na neomu haengbokhaeyo (Ya, aku mengerti. Terimakasih. Aku sangat bahagia)," kataku.
Hyochang bilang teman-temannya iri, karena dia sekarang punya pacar cantik. Temannya iri karena mereka jelek dan Hyochang terlihat ganteng setelah pacaran denganku. Ini lucu, mirip gombalan film Dilan yang baru aku tonton kemarin. Tapi ini bukan Dilan dan Milea, ini antara aku, Anisa Kamil, dan Shin Hyo Chang.
Setelah dia sampai di Korea besoknya, dia selalu mengucapkan selamat pagi untukku. Setiap pagi, di chatting FB. Tapi lama-lama dia merasa kesulitan, chatting FB terlalu susah dibuka di Korea. Akhirnya aku rela membuat KakaoTalk, tapi akunku sempat aku hapus dan aku blok nomor Hyochang karena kami bertengkar. Percakapan kami di KakaoTalk hilang. Hubungan kami sempat gonjang ganjing sebelum anniversary pertama.
Jumat, 09 Maret 2018
Kamis, 08 Maret 2018
"Stigma, 2016" (Part 3)
3. Pertemuan Tak Terduga
Januari 2016 Bu Les memanggil aku dan temanku, Dika, untuk tampil menari memperkenalkan budaya Jawa Timur. Kata Bu Les, sanggar kami akan kedatangan turis asing dari Korea Selatan. Perlu diketahui, sanggar kami memang cukup populer di kota Surabaya, turis datang untuk dijamu tarian sudah bukan hal aneh lagi. Tiga bulan sekali Bu Les selalu mendapatkan rombongan tamu Asing, maksudku dari luar Negeri. Aku masuk di sanggar tari Bu Les mulai kelas 3 SMP, sampai akhir 2016. Aku sudah pernah tampil tiga kali di depan para tamu. Yang pertama di depan rombongan ilmuwan dari Australia yang sedang berlibur dari tugas mereka di Surabaya. Ternyata bukan orang Indonesia saja yang penasaran dengan budaya Negara lain, melainkan orang luar juga ingin tahun dengan budaya Indonesia yang mereka bilang "unik".
Yang kedua aku tampil di sekelompok rombongan tur orang Belanda, kira-kira waktu itu jumlahnya 15 atau 17 orang. Sanggar Bu Les memang masuk ke gang kecil, tapi ketika sudah di depan sanggar, tempatnya begitu luas dan asri. Bu Les bukan hanya mengajari muridnya menari, tapi juga memainkan berbagai alat musik mulai dari angklung sampai sasando. Yang ketiga aku menari di depan para rombongan Dikbud Kota Kediri. Selama itu Bu Les mengajari aku untuk menghilangkan sindrom demam panggung, dan Bu Les berhasil. Bisa dibilang aku jadi mbah-mbahannya di sangar tari Bu Lestari karena aku yang paling lama. Dika masuk ke sanggar dua tahun setelah aku masuk.
Pada hari itu Bu Les memintaku berlatih bersama Dika untuk menyamut kedatangan rombongan study tur dari Korea Selatan, seperti biasa aku mempersiapkan diriku bersama Dika. Tugasku ternyata tidak hanya berlatih untuk diri sendiri ternyata, Bu Les memintaku dan Dika mengajari adik-adik untuk menampilkan musik angklung. Ya begitulah, aku dan Dika juga mahir bermain angklung. Mendengarkan musik dari alat tradisional menurutku membuat hati tenang, seperti kembali ke alam, menyejukkan.
"Nak, Nisa, besok tampil ya," pinta Bu Les.
"Tamunya dari mana Bu," tanyaku.
"Dari Korea, rombongan banyak. Nggak perlu tarian yang sulit, pokoknya menghibur saja. Tari Lenggak Lenggok sudah cukup,"
"Oh, kamu sama Dika latih adik-adik juga ya. Mainkan lagu angklung yang biasa dibuat latihan itu saja. Nggak perlu pusing," kata Bu Les.
"Oke siap Bu," kataku.
"Nisa, Lenggak Lengok kan tarian anak kecil. Nggak perlu latihan kan kita sudah hafal, wong itu tarian yang kita ajarkan ke adik-adik hampir tiap minggu," gumam Dika.
"Wes lah Dik, pokoknya iyo wae. Bu Les wes tua, masa ngomong ora," (Sudah lah Dik, pokoknya iya saja. Bu Les sudah tua, masa mau ngomong nggak mau.)
Kira-kira aku, Dika, dan adik-adik tim angklung berlatih sekitar 5 hari. Aku masih ingat, itu hari Minggu pagi, adik-adik libur sekolah, dan kami menyambut tamu. Rombongan datang sekitar 7 orang, total 10 orang dengan gurunya. Aku tampil seperti biasa untuk tari pembuka, aku berdua dengan Dika menampilkan tari Lenggak Lenggok yang diminta Bu Les. Dan seperti biasa juga, para turis memotret sana sini, karena kami juga memakai make up sebagaimana penampilan tari.
Tiba giliran tim angklung, aku dan Dika kembali ikut naik pangung dengan adik-adik. Singkat cerita di akhir acara, kami dan turis menari bersama mengikuti alunan lagu daerah khas Jawa Timur. Aku kok senang ya, orang Korea yang biasanya aku lihat di drama sekarang bertebaran di depanku. Aku memang sedikit-sedikit mengerti bahasa Korea, karena aku suka melihat drama Korea lengkap dengan subtitle-nya. Aku sering mendengar kata "Daebak!" (Hebat!) saat mas-mas oppa menari bersama kami.
Setelah selesai acara, aku menghapus make up dan ganti baju. Aku kembali menjadi aku yang tidak memakai topeng. Dika mendadak pamit pulang duluan karena ada janji dengan pacarnya ke mall. Sementara aku masih tinggal di sanggar untuk bantu beres-beres cak To, tukang bersih-bersih di sanggar Bu Les.
"Bu, turisnya cuma sehari, to?" tanyaku.
"Nggak, satu minggu katanya,"
"Bu Les bisa bahasa Korea?" tanyaku penasaran.
"Yo ora to, ngawur. Kan ada penerjemahnya, (Ya nggak dong, ngawur. Kan ada penerjemahnya)" jawab Bu Les.
"Oh gitu. Ganteng ya Bu, kaya China,"
"Iyo, rupane podo kabeh, (Iya, wajahnya sama semua)," jawab Bu Les sambil tertawa kecil.
Aku istirahat seminggu setelah acara itu, aku tidak ke sanggar. Aku flu, karena musim sedang tidak jelas. Kadang pagi cerah, siang mendung, sore hujan deras, dan banjir. Kalau banjir, aku malas berangkat ke sanggar, karena jalan dari rumahku ke sanggar dipenuhi genangan air. Aku tidak bisa naik motor, jadi kadang aku naik ojek. Kalau adikku libur sekolah, dia yang mengantarku.
Leyeh-leyeh di tempat tidur pas hujan-hujan memang enak. Tulang-tulang punggungku ini perlu diistirahatkan. Apa aku tidak kerja? Aku kerja, jadi pelatih tari anak-anak di sanggar Bu Les. hehe. Sambil menunggu hujan reda mau ke warung mbak Ti, aku membuka Facebook. Ternyata ada pesan, dia belum jadi temanku di FB. Biasanya aku cuek. Tapi setelah aku lihat, profil dia memakai fotoku. Lho lho..
Aku belum baca pesannya, tapi aku buka dulu profilnya. Aku buka-buka foto demi foto, ada foto-foto dia dengan teman-teman sekolahnya. Salah satunya, foto dia dan teman-temannya saat mengunjungi sanggar Bu Les. Itu kan mas-mas oppa. Sekilas aku langsung bingung, ada apa dia add FB ku? Aku sempat membaca komen-komen temannya di foto saat dia berada di sanggar Bu Les. Karena aku sedikit tahu tentang huruf Korea, aku bisa membacanya, kalau bingung aku memakai jasa Google Translate secara gratis. Aku scroll ke bawah, aku belum kenal dia, dia belum kenal aku, tapi dia bilang ke teman-temannya kalau aku cantik. Ya, dia kan memakai fotoku jadi foto profilnya.
"nae yeochin yeppeunya (pacarku cantik kan)" tulis dia di kolom komentar kepada teman-temannya.
Aku kaget, aku langsung nimbrung komentar "igen naya? (ini aku?)" aku bermaksud menanyakan tentang fotoku yang dia pakai jadi foto profil. "Yes (ya)," jawabnya singkat.
Aku tidak percaya ternyata teman-temannya menanggapi ramai "sarangi himiran (kekuatan cinta)," celetuk salah satu temannya. Aku yang semakin merasa mereka ngawur bertanya dengan kekuatan bahasa Internasional ku "what do you mean? (apa maksudmu?),", Jantungku semakin tidak karuan waktu dia menuliskan komentar "don't touch my girl, joke joke haha (jangan sentuh pacarku, hanya bercanda haha)."
"haha gwiyeowoyo (haha, lucu)" komentarku.
"daedaboeulhae (jawablah!)" komentar temannya.
"aaa~ ne (iya)" komentarku. Teman-temannya rusuh memintaku untuk menjawab cinta dia. Tapi aku masih belum paham, orang ini siapa?
Aku mengkonfirmasi pertemanan, di langsung mengajak aku bicara lewat chat. Ige peiseubukyeseo cheos chaeting (ini pertama kali kita chat di FB):
"Hi! Do you remember me? (hai, apakah kamu ingat aku)" kata dia.
"Hi. Of course. How do you know my facebook? (Hai. Iya aku ingat. Bagaimana kamu tahu facebook milikku?)" kataku. Rasanya dag dig dug, nano nano. Senang, terharu, sedih, ingin menangis. Oiya, sebelum bertemu dengan dia, aku memang sudah bisa menulis huruf hangul tapi kadang bingung merangkai kalimat.
Dia menjelaskan bahwa dia mencari namaku di FB, dan jjang jjang, menemukannya. Aku hampir tidak percaya, ckckck. Ops, dia mulai mengeluarkan jurus gombal, yang biasa dipakai para lelaki.
"You are first pretty girl in Indonesia (kamu adalah wanita cantik pertama Indonesia yang aku temui)" katanya.
"I'm a little surprised when I look at your profil. Ah really? Thank you (Aku sedikit kaget waktu aku lihat profil FB kamu. Ah benarkah aku cantik? Terimakasih)" kataku.
Aku membalas gombalannya "neo neomu jalsaengkyeosseoyo (kamu juga ganteng)."
"Oh, thank you so much. But I'm not handsome in Korea (Oh, terimakasih banyak. Tapi aku tidak ganteng di Korea)," katanya.
Langsung to the point, dia tanya pertanyaan sensitif "Do you have boyfriend (Apa kamu punya pacar?)". Aku jawab tidak. Dia melanjutkan "Can you be my girlfriend (Bisakah kamu jadi pacarku)." Ini seperti sapuan ombak tsunami, atau badai florida di siang bolong. Kurang dari 1 jam aku menerima pertemanan, dia langsung menyatakan cinta. Apa ini cinta pandangan pertama? haha.
"Are you serius? Nongdamhajimaseyo (kamu serius? Jangan bercanda)" tanyaku.
"No. Really. I can't talk more (Tidak. Sungguh. Aku tidak bica bicara lagi)" jawabnya.
"Oke," jawabku. Aku menjawab "Oke" untuk membalas "I can't talk more", tapi dia menganngap aku sudah menerima cintanya. Dia bilang"I'm so happy (aku sangat bahagia)."
Lucu, tapi itu perkenalan singkatku dengan si dia. Si diaku sampai hari ini.
Januari 2016 Bu Les memanggil aku dan temanku, Dika, untuk tampil menari memperkenalkan budaya Jawa Timur. Kata Bu Les, sanggar kami akan kedatangan turis asing dari Korea Selatan. Perlu diketahui, sanggar kami memang cukup populer di kota Surabaya, turis datang untuk dijamu tarian sudah bukan hal aneh lagi. Tiga bulan sekali Bu Les selalu mendapatkan rombongan tamu Asing, maksudku dari luar Negeri. Aku masuk di sanggar tari Bu Les mulai kelas 3 SMP, sampai akhir 2016. Aku sudah pernah tampil tiga kali di depan para tamu. Yang pertama di depan rombongan ilmuwan dari Australia yang sedang berlibur dari tugas mereka di Surabaya. Ternyata bukan orang Indonesia saja yang penasaran dengan budaya Negara lain, melainkan orang luar juga ingin tahun dengan budaya Indonesia yang mereka bilang "unik".
Yang kedua aku tampil di sekelompok rombongan tur orang Belanda, kira-kira waktu itu jumlahnya 15 atau 17 orang. Sanggar Bu Les memang masuk ke gang kecil, tapi ketika sudah di depan sanggar, tempatnya begitu luas dan asri. Bu Les bukan hanya mengajari muridnya menari, tapi juga memainkan berbagai alat musik mulai dari angklung sampai sasando. Yang ketiga aku menari di depan para rombongan Dikbud Kota Kediri. Selama itu Bu Les mengajari aku untuk menghilangkan sindrom demam panggung, dan Bu Les berhasil. Bisa dibilang aku jadi mbah-mbahannya di sangar tari Bu Lestari karena aku yang paling lama. Dika masuk ke sanggar dua tahun setelah aku masuk.
Pada hari itu Bu Les memintaku berlatih bersama Dika untuk menyamut kedatangan rombongan study tur dari Korea Selatan, seperti biasa aku mempersiapkan diriku bersama Dika. Tugasku ternyata tidak hanya berlatih untuk diri sendiri ternyata, Bu Les memintaku dan Dika mengajari adik-adik untuk menampilkan musik angklung. Ya begitulah, aku dan Dika juga mahir bermain angklung. Mendengarkan musik dari alat tradisional menurutku membuat hati tenang, seperti kembali ke alam, menyejukkan.
"Nak, Nisa, besok tampil ya," pinta Bu Les.
"Tamunya dari mana Bu," tanyaku.
"Dari Korea, rombongan banyak. Nggak perlu tarian yang sulit, pokoknya menghibur saja. Tari Lenggak Lenggok sudah cukup,"
"Oh, kamu sama Dika latih adik-adik juga ya. Mainkan lagu angklung yang biasa dibuat latihan itu saja. Nggak perlu pusing," kata Bu Les.
"Oke siap Bu," kataku.
"Nisa, Lenggak Lengok kan tarian anak kecil. Nggak perlu latihan kan kita sudah hafal, wong itu tarian yang kita ajarkan ke adik-adik hampir tiap minggu," gumam Dika.
"Wes lah Dik, pokoknya iyo wae. Bu Les wes tua, masa ngomong ora," (Sudah lah Dik, pokoknya iya saja. Bu Les sudah tua, masa mau ngomong nggak mau.)
Kira-kira aku, Dika, dan adik-adik tim angklung berlatih sekitar 5 hari. Aku masih ingat, itu hari Minggu pagi, adik-adik libur sekolah, dan kami menyambut tamu. Rombongan datang sekitar 7 orang, total 10 orang dengan gurunya. Aku tampil seperti biasa untuk tari pembuka, aku berdua dengan Dika menampilkan tari Lenggak Lenggok yang diminta Bu Les. Dan seperti biasa juga, para turis memotret sana sini, karena kami juga memakai make up sebagaimana penampilan tari.
Tiba giliran tim angklung, aku dan Dika kembali ikut naik pangung dengan adik-adik. Singkat cerita di akhir acara, kami dan turis menari bersama mengikuti alunan lagu daerah khas Jawa Timur. Aku kok senang ya, orang Korea yang biasanya aku lihat di drama sekarang bertebaran di depanku. Aku memang sedikit-sedikit mengerti bahasa Korea, karena aku suka melihat drama Korea lengkap dengan subtitle-nya. Aku sering mendengar kata "Daebak!" (Hebat!) saat mas-mas oppa menari bersama kami.
Setelah selesai acara, aku menghapus make up dan ganti baju. Aku kembali menjadi aku yang tidak memakai topeng. Dika mendadak pamit pulang duluan karena ada janji dengan pacarnya ke mall. Sementara aku masih tinggal di sanggar untuk bantu beres-beres cak To, tukang bersih-bersih di sanggar Bu Les.
"Bu, turisnya cuma sehari, to?" tanyaku.
"Nggak, satu minggu katanya,"
"Bu Les bisa bahasa Korea?" tanyaku penasaran.
"Yo ora to, ngawur. Kan ada penerjemahnya, (Ya nggak dong, ngawur. Kan ada penerjemahnya)" jawab Bu Les.
"Oh gitu. Ganteng ya Bu, kaya China,"
"Iyo, rupane podo kabeh, (Iya, wajahnya sama semua)," jawab Bu Les sambil tertawa kecil.
Aku istirahat seminggu setelah acara itu, aku tidak ke sanggar. Aku flu, karena musim sedang tidak jelas. Kadang pagi cerah, siang mendung, sore hujan deras, dan banjir. Kalau banjir, aku malas berangkat ke sanggar, karena jalan dari rumahku ke sanggar dipenuhi genangan air. Aku tidak bisa naik motor, jadi kadang aku naik ojek. Kalau adikku libur sekolah, dia yang mengantarku.
Leyeh-leyeh di tempat tidur pas hujan-hujan memang enak. Tulang-tulang punggungku ini perlu diistirahatkan. Apa aku tidak kerja? Aku kerja, jadi pelatih tari anak-anak di sanggar Bu Les. hehe. Sambil menunggu hujan reda mau ke warung mbak Ti, aku membuka Facebook. Ternyata ada pesan, dia belum jadi temanku di FB. Biasanya aku cuek. Tapi setelah aku lihat, profil dia memakai fotoku. Lho lho..
Aku belum baca pesannya, tapi aku buka dulu profilnya. Aku buka-buka foto demi foto, ada foto-foto dia dengan teman-teman sekolahnya. Salah satunya, foto dia dan teman-temannya saat mengunjungi sanggar Bu Les. Itu kan mas-mas oppa. Sekilas aku langsung bingung, ada apa dia add FB ku? Aku sempat membaca komen-komen temannya di foto saat dia berada di sanggar Bu Les. Karena aku sedikit tahu tentang huruf Korea, aku bisa membacanya, kalau bingung aku memakai jasa Google Translate secara gratis. Aku scroll ke bawah, aku belum kenal dia, dia belum kenal aku, tapi dia bilang ke teman-temannya kalau aku cantik. Ya, dia kan memakai fotoku jadi foto profilnya.
"nae yeochin yeppeunya (pacarku cantik kan)" tulis dia di kolom komentar kepada teman-temannya.
Aku kaget, aku langsung nimbrung komentar "igen naya? (ini aku?)" aku bermaksud menanyakan tentang fotoku yang dia pakai jadi foto profil. "Yes (ya)," jawabnya singkat.
Aku tidak percaya ternyata teman-temannya menanggapi ramai "sarangi himiran (kekuatan cinta)," celetuk salah satu temannya. Aku yang semakin merasa mereka ngawur bertanya dengan kekuatan bahasa Internasional ku "what do you mean? (apa maksudmu?),", Jantungku semakin tidak karuan waktu dia menuliskan komentar "don't touch my girl, joke joke haha (jangan sentuh pacarku, hanya bercanda haha)."
"haha gwiyeowoyo (haha, lucu)" komentarku.
"daedaboeulhae (jawablah!)" komentar temannya.
"aaa~ ne (iya)" komentarku. Teman-temannya rusuh memintaku untuk menjawab cinta dia. Tapi aku masih belum paham, orang ini siapa?
Aku mengkonfirmasi pertemanan, di langsung mengajak aku bicara lewat chat. Ige peiseubukyeseo cheos chaeting (ini pertama kali kita chat di FB):
"Hi! Do you remember me? (hai, apakah kamu ingat aku)" kata dia.
"Hi. Of course. How do you know my facebook? (Hai. Iya aku ingat. Bagaimana kamu tahu facebook milikku?)" kataku. Rasanya dag dig dug, nano nano. Senang, terharu, sedih, ingin menangis. Oiya, sebelum bertemu dengan dia, aku memang sudah bisa menulis huruf hangul tapi kadang bingung merangkai kalimat.
Dia menjelaskan bahwa dia mencari namaku di FB, dan jjang jjang, menemukannya. Aku hampir tidak percaya, ckckck. Ops, dia mulai mengeluarkan jurus gombal, yang biasa dipakai para lelaki.
"You are first pretty girl in Indonesia (kamu adalah wanita cantik pertama Indonesia yang aku temui)" katanya.
"I'm a little surprised when I look at your profil. Ah really? Thank you (Aku sedikit kaget waktu aku lihat profil FB kamu. Ah benarkah aku cantik? Terimakasih)" kataku.
Aku membalas gombalannya "neo neomu jalsaengkyeosseoyo (kamu juga ganteng)."
"Oh, thank you so much. But I'm not handsome in Korea (Oh, terimakasih banyak. Tapi aku tidak ganteng di Korea)," katanya.
Langsung to the point, dia tanya pertanyaan sensitif "Do you have boyfriend (Apa kamu punya pacar?)". Aku jawab tidak. Dia melanjutkan "Can you be my girlfriend (Bisakah kamu jadi pacarku)." Ini seperti sapuan ombak tsunami, atau badai florida di siang bolong. Kurang dari 1 jam aku menerima pertemanan, dia langsung menyatakan cinta. Apa ini cinta pandangan pertama? haha.
"Are you serius? Nongdamhajimaseyo (kamu serius? Jangan bercanda)" tanyaku.
"No. Really. I can't talk more (Tidak. Sungguh. Aku tidak bica bicara lagi)" jawabnya.
"Oke," jawabku. Aku menjawab "Oke" untuk membalas "I can't talk more", tapi dia menganngap aku sudah menerima cintanya. Dia bilang"I'm so happy (aku sangat bahagia)."
Lucu, tapi itu perkenalan singkatku dengan si dia. Si diaku sampai hari ini.
"Stigma, 2016" (Part 2)
2. Anisa Kamil
Di bab perkenalan aku belum memperkenalkan namaku, aku Anisa Kamil, belum tua, masih 22 tahun sekarang, 2018. Pada tahun 2016, aku masih 20, masih unyu dan suka main. Aku sudah lulus sekolah SMA swasta di Surabaya, tidak berniat kuliah tetapi ingin terus mencintai hobiku, menari. Aku lahir di Surabaya 29 Februari 1996. Aku ulang tahun 4 tahun sekali, jadi aku terlihat paling muda kata teman-temanku. Lahir di tanggal itu merupakan suatu anugerah, semacam alasan yang bisa kubuat untuk menghemat umurku.
Aku lahir di tengah-tengah keluarga yang mencintai olahraga. Papa seorang mekanik yang kerjanya pindah-pindah tergantung proyek, tapi kalau sudah main tenis meja papa sudah bukan mekanik lagi, tapi atlet Nasional. Di rumah banyak piala papa memenangkan kejuaraan tenis meja, dari RT, RW, kelurahan, sampai kecamatan. Papaku adalah papa yang aku sayangi di dunia. Meski kadang tempramen karena aku bandel, tapi marahnya papa selalu hilang dalam semalam. Sebenarnya papa adalah seorang penyayang, apalagi ke anak perempuan satu-satunya. Kadang mamaku cemburu dan bertanya kepada papa mengapa dia selalu memanjakan anak gadisnya dimanapun dan kapanpun berada.
Mama, adalah mama yang super sibuk sebagai penata busana di sebuah event organizer. Mamaku cantik dan lebih tinggi dariku, kulitnya kuning dan rambutnya ikal. Mama selalu menuntut perfect dari diriku, terutama masalah fashion. Mama adalah mama yang paling comel di dunia karena aku sering tidak memakai baju yang benar ketika keluar rumah. Dulu aku tomboy, tomboy sekali, rambutku pendek, pakai celana borju lengkap dengan sabuknya, dan tidak lupa topi terbalik. Tapi mama yang hobi main volly mengajariku semenjak aku masuk SMA, untuk menjadi perempuan feminin. Saat itu aku sudah memikirkan bagaimana seorang perempuan menarik perhatian laki-laki. Dengan kata lain, aku ingin punya pacar.
Oiya, aku punya adik laki-laki, usianya 3 tahun di bawahku. Dia usil dan sering menggangguku ketika sedang main Playstation. Tapi itu dulu, waktu aku masih dengan rambut pendekku. Ketika aku dan adikku sudah sama-sama besar, kami seperti pacar. Adikku tinggi besar, sedangkan aku kecil dan tidak tinggi. Sering aku berjalan dengan adikku nonton bioskop, orang melihat aku sedang menggandeng pacarku. Dulu aku dan adikku sering adu pukul, satu bawa sisir, satu lagi bawa sapu. Tapi sekarang dia adalah laki-laki yang paling sayang kepadaku setelah papa. Adikku hobi sepak takraw, dia pernah ikut kejuaraan sampai kabupaten.
Aku, aku sendiri suka bermain badminton. Aku pernah beberapa kali ikut kejuaraan provinsi, tapi kalah. Aku mengidap sindrom demam panggung, kakiku selalu bergetar waktu di lapangan, jadi tidak pernah menang. Tapi aku punya hobi lain, menari. Aku menari sejak aku TK, papa dan mama memang menyekolahkan aku di sekolah yang banyak ekstrakulikulernya. Oiya, aku tidak pernah sekolah di sekolah Negeri, jaman dulu sekolah swasta fasilitasnya lebih terjamin. Sampai aku SMA, aku masih ikut latihan di sanggar tari milih teman mamaku, Bu Lestari.
Bu Les, begitu aku memanggilnya, mengajariku banyak tari-tarian. Kata temanku aku baling baik menarinya karena memang berlatih dari kecil. Bu Les biasanya memintaku untuk tampil kalau ada orderan tari. Aku tetap aku yang dulu, si perempuan dengan sindrom panggung. Tapi lama-lama Bu Les menumbuhkan kepercayadirianku untuk berdiri di tengah-tengah panggung dan menunjukkan kepada dunia bahwa aku bisa menari.
Dari hobi ini, ternyata aku menemukan cintaku. Seorang laki-laki dari Negeri antah-berantah dengan bahasa aliennya, bermata sipit, berkulit putih, rambut berponi, dan suaranya agak besar. Awalnya aku sama sekali tidak memikirkan soal pacaran, karena dalam hidupku aku hanya pernah pacaran satu kali dan disakiti. Sampai hari itu, dia meyakinkan aku dalam beberapa waktu saja, "please, be my girlfriend.." Saat ini aku sedang mengenang, indahnya saat aku dan dia tidak mengerti bahasa masing-masing dan dia berusaha untuk memakai bahasa Internasional untuk menyatakan perasaannya kepadaku. Manis, manis seperti gula jawa. Tapi kenyataannya hubungan jarak jauh itu menyakitkan...
Di bab perkenalan aku belum memperkenalkan namaku, aku Anisa Kamil, belum tua, masih 22 tahun sekarang, 2018. Pada tahun 2016, aku masih 20, masih unyu dan suka main. Aku sudah lulus sekolah SMA swasta di Surabaya, tidak berniat kuliah tetapi ingin terus mencintai hobiku, menari. Aku lahir di Surabaya 29 Februari 1996. Aku ulang tahun 4 tahun sekali, jadi aku terlihat paling muda kata teman-temanku. Lahir di tanggal itu merupakan suatu anugerah, semacam alasan yang bisa kubuat untuk menghemat umurku.
Aku lahir di tengah-tengah keluarga yang mencintai olahraga. Papa seorang mekanik yang kerjanya pindah-pindah tergantung proyek, tapi kalau sudah main tenis meja papa sudah bukan mekanik lagi, tapi atlet Nasional. Di rumah banyak piala papa memenangkan kejuaraan tenis meja, dari RT, RW, kelurahan, sampai kecamatan. Papaku adalah papa yang aku sayangi di dunia. Meski kadang tempramen karena aku bandel, tapi marahnya papa selalu hilang dalam semalam. Sebenarnya papa adalah seorang penyayang, apalagi ke anak perempuan satu-satunya. Kadang mamaku cemburu dan bertanya kepada papa mengapa dia selalu memanjakan anak gadisnya dimanapun dan kapanpun berada.
Mama, adalah mama yang super sibuk sebagai penata busana di sebuah event organizer. Mamaku cantik dan lebih tinggi dariku, kulitnya kuning dan rambutnya ikal. Mama selalu menuntut perfect dari diriku, terutama masalah fashion. Mama adalah mama yang paling comel di dunia karena aku sering tidak memakai baju yang benar ketika keluar rumah. Dulu aku tomboy, tomboy sekali, rambutku pendek, pakai celana borju lengkap dengan sabuknya, dan tidak lupa topi terbalik. Tapi mama yang hobi main volly mengajariku semenjak aku masuk SMA, untuk menjadi perempuan feminin. Saat itu aku sudah memikirkan bagaimana seorang perempuan menarik perhatian laki-laki. Dengan kata lain, aku ingin punya pacar.
Oiya, aku punya adik laki-laki, usianya 3 tahun di bawahku. Dia usil dan sering menggangguku ketika sedang main Playstation. Tapi itu dulu, waktu aku masih dengan rambut pendekku. Ketika aku dan adikku sudah sama-sama besar, kami seperti pacar. Adikku tinggi besar, sedangkan aku kecil dan tidak tinggi. Sering aku berjalan dengan adikku nonton bioskop, orang melihat aku sedang menggandeng pacarku. Dulu aku dan adikku sering adu pukul, satu bawa sisir, satu lagi bawa sapu. Tapi sekarang dia adalah laki-laki yang paling sayang kepadaku setelah papa. Adikku hobi sepak takraw, dia pernah ikut kejuaraan sampai kabupaten.
Aku, aku sendiri suka bermain badminton. Aku pernah beberapa kali ikut kejuaraan provinsi, tapi kalah. Aku mengidap sindrom demam panggung, kakiku selalu bergetar waktu di lapangan, jadi tidak pernah menang. Tapi aku punya hobi lain, menari. Aku menari sejak aku TK, papa dan mama memang menyekolahkan aku di sekolah yang banyak ekstrakulikulernya. Oiya, aku tidak pernah sekolah di sekolah Negeri, jaman dulu sekolah swasta fasilitasnya lebih terjamin. Sampai aku SMA, aku masih ikut latihan di sanggar tari milih teman mamaku, Bu Lestari.
Bu Les, begitu aku memanggilnya, mengajariku banyak tari-tarian. Kata temanku aku baling baik menarinya karena memang berlatih dari kecil. Bu Les biasanya memintaku untuk tampil kalau ada orderan tari. Aku tetap aku yang dulu, si perempuan dengan sindrom panggung. Tapi lama-lama Bu Les menumbuhkan kepercayadirianku untuk berdiri di tengah-tengah panggung dan menunjukkan kepada dunia bahwa aku bisa menari.
Dari hobi ini, ternyata aku menemukan cintaku. Seorang laki-laki dari Negeri antah-berantah dengan bahasa aliennya, bermata sipit, berkulit putih, rambut berponi, dan suaranya agak besar. Awalnya aku sama sekali tidak memikirkan soal pacaran, karena dalam hidupku aku hanya pernah pacaran satu kali dan disakiti. Sampai hari itu, dia meyakinkan aku dalam beberapa waktu saja, "please, be my girlfriend.." Saat ini aku sedang mengenang, indahnya saat aku dan dia tidak mengerti bahasa masing-masing dan dia berusaha untuk memakai bahasa Internasional untuk menyatakan perasaannya kepadaku. Manis, manis seperti gula jawa. Tapi kenyataannya hubungan jarak jauh itu menyakitkan...
"Stigma, 2016" (Part 1)
1. Perkenalan
Aku perempuan, dan kata orang aku manis. Kulitku cokelat dan mataku tidak sipit, badanku juga kecil dan tidak tinggi semampai. Aku tidak tahu akan memulainya dari mana, yang jelas aku bercerita agar orang tahu perasaanku yang sebenarnya. Semuanya menganggapku "wah enaknya punya pacar orang Korea', tapi mereka tidak pernah lebih dulu bertanya, "apa kamu bahagia?"
Aku ingin mematahkan khayalan tinggi anak jaman sekarang, tapi aku juga ingin mematahkan stigma buruk tentang orang Korea, pacarku. Demam drama Korea dan musik Kpop sudah menjamur di Indonesia, aku sendiri sebagai Warga Negara Indonesia yang cinta dengan budaya Tanah Air juga kadang menyukai lagu-lagu Kpop dan sering menonton drama Korea. Tapi aku tidak pernah menyangka, dia yang bukan tipeku tiba-tiba datang dari Negeri seberang mengatakan cinta hari itu.
Aku bercerita kepada penulis, Noona Writer, tentang bagaimana menyampaikan kisahku ke mereka agar mereka tahu bagaimana aku yang sesungguhnya. Aku bukan artis, apalagi anak Presiden. Aku hanya seseorang yang kadang khawatir dengan khayalan tingkat tinggi para anak muda jaman sekarang yang terlalu mengidolakan idolanya. Apa tidak boleh mengidolakan sang bintang? Boleh, dengan sewajarnya. Maka dari itu aku meminta tolong kepada Noona Writer untuk menuliskan kisahku, agar mereka tahu kahyalannya tidak akan seindah kenyataannya.
Noona Writer bukan teman dekatku, bukan sahabatku, apalagi kekasih gelapku. Mungkin dia seolah jembatan, atau perantara aku untuk memberikan sedikit pengertian dari apa saja yang aku alami selama ini. Jadi semua yang aku katakan, murni kata-kataku. Jika perlu dikomentari, komentari perbuatanku, bukan tulisannya.
Aku akan membaginya ke dalam beberapa bab. Aku ingin lebih detail menceritakan bagaimana aku menjalani hidupku di masa muda. Seorang gadis yang sangat cinta dengan budaya Indonesia, justru kepincut dengan pemuda Korea yang cuma numpang main. Bismillahirahmanirrahim...aku menceritakan mulai dari sekrang.
Aku perempuan, dan kata orang aku manis. Kulitku cokelat dan mataku tidak sipit, badanku juga kecil dan tidak tinggi semampai. Aku tidak tahu akan memulainya dari mana, yang jelas aku bercerita agar orang tahu perasaanku yang sebenarnya. Semuanya menganggapku "wah enaknya punya pacar orang Korea', tapi mereka tidak pernah lebih dulu bertanya, "apa kamu bahagia?"
Aku ingin mematahkan khayalan tinggi anak jaman sekarang, tapi aku juga ingin mematahkan stigma buruk tentang orang Korea, pacarku. Demam drama Korea dan musik Kpop sudah menjamur di Indonesia, aku sendiri sebagai Warga Negara Indonesia yang cinta dengan budaya Tanah Air juga kadang menyukai lagu-lagu Kpop dan sering menonton drama Korea. Tapi aku tidak pernah menyangka, dia yang bukan tipeku tiba-tiba datang dari Negeri seberang mengatakan cinta hari itu.
Aku bercerita kepada penulis, Noona Writer, tentang bagaimana menyampaikan kisahku ke mereka agar mereka tahu bagaimana aku yang sesungguhnya. Aku bukan artis, apalagi anak Presiden. Aku hanya seseorang yang kadang khawatir dengan khayalan tingkat tinggi para anak muda jaman sekarang yang terlalu mengidolakan idolanya. Apa tidak boleh mengidolakan sang bintang? Boleh, dengan sewajarnya. Maka dari itu aku meminta tolong kepada Noona Writer untuk menuliskan kisahku, agar mereka tahu kahyalannya tidak akan seindah kenyataannya.
Noona Writer bukan teman dekatku, bukan sahabatku, apalagi kekasih gelapku. Mungkin dia seolah jembatan, atau perantara aku untuk memberikan sedikit pengertian dari apa saja yang aku alami selama ini. Jadi semua yang aku katakan, murni kata-kataku. Jika perlu dikomentari, komentari perbuatanku, bukan tulisannya.
Aku akan membaginya ke dalam beberapa bab. Aku ingin lebih detail menceritakan bagaimana aku menjalani hidupku di masa muda. Seorang gadis yang sangat cinta dengan budaya Indonesia, justru kepincut dengan pemuda Korea yang cuma numpang main. Bismillahirahmanirrahim...aku menceritakan mulai dari sekrang.
Langganan:
Postingan (Atom)
"Stigma, 2016" (Part 5)
5. Video Call Perdana Aku tahu mungkin banyak pembaca yang membayangkan seperti apa rasanya pacaran dengan komunikasi lewat bahasa yang be...
-
3. Pertemuan Tak Terduga Januari 2016 Bu Les memanggil aku dan temanku, Dika, untuk tampil menari memperkenalkan budaya Jawa Timur. Kata B...
-
1. Perkenalan Aku perempuan, dan kata orang aku manis. Kulitku cokelat dan mataku tidak sipit, badanku juga kecil dan tidak tinggi semampa...
-
5. Video Call Perdana Aku tahu mungkin banyak pembaca yang membayangkan seperti apa rasanya pacaran dengan komunikasi lewat bahasa yang be...