Jumat, 09 Maret 2018

"Stigma, 2016" (Part 4)

4. Kembali Ke Korea Selatan

Awalan cinta yang manis, tapi seperti drama FTV. Belum ada satu jam, dia sudah menyatakan cinta. Ah tidak, tepatnya seminggu lalu, di pandangan pertama dia untukku di sanggar Bu Les. Kami melanjutkan chatting setelah dia menyatakan cinta di chatting pertama kami. Dia bilang, dia sedang di bandara dan akan kembali ke Korea, study tour-nya sudah selesai. Aku tidak pernah membayangkan akan punya pacar orang Korea, ini nyata dan bukan drama. Aku juga tidak pernah menyangka akan menjalani hubungan LDR sejauh ini. Berbeda Tanah Air, berbeda daratan, menyebrangi lautan luas, dan mendengarkan bahasa alien setiap saat.

Awalnya aku tidak menganggap ini serius, ah pasti ini hanya cinta-cintaan biasa. Dia pasti lupa aku, pasti, tidak mungkin tidak. Ketika dia berpamitan akan kembali ke Negaranya, aku hanya bisa bilang "have a nice trip (semoga perjalananmu menyenangkan)". Tapi dia membalas kata-kataku dengan minta maaf.

"I'm sorry (aku minta maaf)," kata dia.
Aku tanya kenapa, tapi dia hanya membalasnya dengan jawabannya bahwa dia akan menemuiku dengan segera setelah hari itu. Hari itu, hari terakhir dia ada di Indonesia, Negaraku. "I will meet you (aku akan bertemu denganmu)," katanya. Entah kenapa, itu menjadi sebuah harapan untukku, untuk diriku yang tidak tahu menahu dia itu siapa. Seperti di Negeri dongeng, tapi dia cintaku sejak saat itu. Aku balas "iya", aku akan menunggunya, menunggu si mata sipit kembali ke Indonesia. Entah itu harapan bohong, atau hanya bercanda, tapi aku tidak yakin.

Lucunya, dia masih sempat memperkenalkan dirinya sebelum take off. Dia bertanya apakah aku tahu usianya. Ah aku pikir, usia adalah hal sensitif untuk Negara Korea, aku tidak pernah mau bertanya itu, tapi dia mengatakannya sendiri. Betapa terkejutnya aku, ternyata dia masih pelajar. Dia berusia 2 tahun lebih muda dari pada aku. Oh my Godness, aku pacaran dengan berondong.

Dia berbalik bertanya berapa umurku, dia menebak usiaku setahun lebih tua. Aku menyebutkan usiaku, dan dia tidak terkejut.
"I'm older than you. 20 (aku lebih tua dari kamu, aku 20 tahun)" kataku.
"noona. Saranghaeyo (kakak, aku mencintamu)" Dia sontak memanggil aku noona. Sebutan noona diperuntukkan laki-laki yang lebih muda dari pada seorang wanita. Noona sama dengan kakak, dari laki-laki ke perempuan. Kalau laki-laki ke kakak laki-laki sebutannya Hyung. Tapi aku tidak suka disebut noona, seolah-olah aku lebih tua lebih dari 5 tahun. Sementara sekarang, dia pacarku.
"nado, saranghaeyo (sama aku juga, aku mencintaimu). Don't call me noona (Jangan panggil aku noona)."

Obrolan kami berlanjut, aku ingin obrolan ini mengalir jauh dan lama. Sampai hujan berhenti dan aku lupa niatku untuk ke warung mbak Ti. Aku mengucapkan terimakasih karena dia sudah mau meluangkan sedikit waktunya untuk menari bersamaku saat acara penyambutan di sanggar. Dia  kemudian membahas bagaimana kami akan berkomunikasi nantinya. LDR kami terlalu jauh. Dia bertanya apa tahu aplikasi Skype, aku tahu tapi tidak punya akunnya.

Aku tidak yakin kami bisa bertemu lagi, aku mengabaikan permintaan membuat akun Skype dan memulai lebih dulu mengatakan perpisahan. Aku bilang aku mau tidur "I have go to sleep now. Gwaenchanhayo? (aku harus pergi tidur sekarang. Tidak apa-apa?)". Dia bilang sedang tidak baik dan take off jam 11 malam.

Oiya, aku belum memperkenalkan namanya. Namanya Shin Hyo Chang. Hyochang, kamu bisa memanggilnya seperti itu, marganya Shin. Hyochang bertanya apakah bahasa Korea susah, dan aku jawab aku berusaha semaksimal mungkin untuk mengerti dan bisa mengucapkannya dengan baik. Dia juga berjanji, akan belajar bahasa Indonesia untuk berkomunikasi lebih baik denganku.

Aku sudah pamit tidur, tapi masih tidak bisa tidur. Obrolan masih berlanjut, sampai dia take off.
"guende...why you love me? (ngomong-ngomong...kenapa kamu mencintaiku?)" tanyaku ke Hyochang.
Tanpa basa basi "When I saw you, I felt flutter. Can you understand? Cheoeoumbwasseuldae neomu yeppeosseoyo (Ketika aku melihatmu, aku merasa jantungku dag dig dug. Bisakah kamu mengerti? Saat pertama kali aku lihat kamu, kamu cantik)."
"Yes, I understand. Gomawoyo. Na neomu haengbokhaeyo (Ya, aku mengerti. Terimakasih. Aku sangat bahagia)," kataku.

Hyochang bilang teman-temannya iri, karena dia sekarang punya pacar cantik. Temannya iri karena mereka jelek dan Hyochang terlihat ganteng setelah pacaran denganku. Ini lucu, mirip gombalan film Dilan yang baru aku tonton kemarin. Tapi ini bukan Dilan dan Milea, ini antara aku, Anisa Kamil, dan Shin Hyo Chang.

Setelah dia sampai di Korea besoknya, dia selalu mengucapkan selamat pagi untukku. Setiap pagi, di chatting FB. Tapi lama-lama dia merasa kesulitan, chatting FB terlalu susah dibuka di Korea. Akhirnya aku rela membuat KakaoTalk, tapi akunku sempat aku hapus dan aku blok nomor Hyochang karena kami bertengkar. Percakapan kami di KakaoTalk hilang. Hubungan kami sempat gonjang ganjing sebelum anniversary pertama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

"Stigma, 2016" (Part 5)

5. Video Call Perdana Aku tahu mungkin banyak pembaca yang membayangkan seperti apa rasanya pacaran dengan komunikasi lewat bahasa yang be...