5. Video Call Perdana
Aku tahu mungkin banyak pembaca yang membayangkan seperti apa rasanya pacaran dengan komunikasi lewat bahasa yang berbeda. Tapi kami, aku dan Hyochang tidak pernah berhenti untuk belajar. Supaya suatu hari, aku dan dia bisa mengucapkan rasa rindu dengan satu bahasa yang sama, ah tidak mungkin dalam berbagai macam bahasa lainnya yang kami pahami dengan benar bersama-sama.
Kami memutuskan untuk menggunakan KakaoTalk untuk berkomunikasi jarak jauh. Rasanya seperti dilempar ke jaman Majapahit, dikala surat masih dikirim dengan burung merpati atau anak panah. Aku dan dia berbicara ala kadarnya, dalam dua bahasa, Korea dan Inggris. Maklum lah ya, menurutnya bahasa Indonesia itu bahasa yang paling sulit di dunia. Hari itu sepulang dari sanggar tari dia mau video call denganku. Hah, selama ini kan kami hanya chatting. Meski sudah seminggu pacaran, aku masih dag dig dug kalau lihat mukanya. Muncul pertanyaan lagi di hatiku "dia pacarku ya?".
Video call pertama kami tidak jelas, penuh ketawa-ketiwi, pakai efek-efek foto dan banyak tingkah. Waktu itu aku ingat jelas, kami tidak berbicara apa-apa, termasuk juga rindu. Aku hanya menunjukkan bagaimana aku sebenarnya, dan dia menunjukkan betapa gilanya dia. Hyochang mungkin lelaki yang cuek dari luar, tapi kalau mengenalnya lebih dalam, dia adalah laki-laki yang humoris. Atau mungkin dia adalah anak muda yang sering memberikan guyonan-guyonan tua ala bapak-bapak, tapi itu yang lucu.
Aku hanya mengutipnya sedikit, karena pembicaraan kami waktu itu tidak penting.
Aku : *berusaha berlaku bodoh, pasang stiker wajah, banyak ketawa, anak kecil banget*
Dia : babogata (seperti orang bodoh)
Aku : nan neoreul usgemandeulgi wihae meongcheonghan jiseoul haesseo (aku ngelakuin sesuatu yang bodoh untuk buat kamu ketawa)
Dia : pogi haesseo. jinjja babocheoreom (aku menyerah. benar-benar seperti orang bodoh)
Aku : nan ajikdo jaemiissge jinaego sipda (aku masih pingin senang-senang *nadanya sedikit manja*)
Dia : au...jinjja (huh...benar-benar kamu ini)
Dia : igeo bwara (lihat ini). Dia memintaku untuk melihat oto tangannya. Sepertinya Hyochang ikut gym atau pura-pura ikut gym aku juga tidak tahu. Dia pernah bilang, dia ingin terlihat seperti oppa oppa. Karena Hyochang lebih muda dari pada aku dua tahun, aku sering bullying dia. Dia anak sekolahan, tapi milikku. meosissji (keren kan) katanya.
Aku : geure. wae geureohge? (Ih. Kok bisa gitu?) aku pura-purang nanggapi lah ya, pura-pura kagum sama otot tangannya. Tapi asli, asli biasa.
Dia : Oppa gata! (kayak oppa oppa ya!) Hyochang selalu mimpi jadi oppa oppa keren yang baisa di drama. Aku sendiri sebenarnya suka variety show "Running Man". Banyak oppa oppa di "Running Man", soal drama Korea, sebenarnya tidak semuanya aku suka. Kalau jalan ceritanya jelek, biasanya aku skip nonton. Oiya, oppa itu panggilan dari perempuan ke kakak laki-laki. Kalau perempuan panggil kakak perempuan dengan sebutan eonni.
Sekian. Itu video call perdanaku dengan pacar brondongku yang berbicara bahasa alien. Karena dia, aku berusaha lebih keras belajar bahasa, terutama bahasa dia. Dia juga sesekali aku ajari bahasa daerahku, bahasa Jawa. Oiya, aku tidak terlalu suka Hyochang disebut brondong, walaupun faktanya memang iya. Hyochang nyatanya, kadang, ah tidak mungkin itu sering, dia sering lebih dewasa dari pada aku, noona yang lebih tua 2 tahun dari pada dia.
Langganan:
Postingan (Atom)
"Stigma, 2016" (Part 5)
5. Video Call Perdana Aku tahu mungkin banyak pembaca yang membayangkan seperti apa rasanya pacaran dengan komunikasi lewat bahasa yang be...
-
3. Pertemuan Tak Terduga Januari 2016 Bu Les memanggil aku dan temanku, Dika, untuk tampil menari memperkenalkan budaya Jawa Timur. Kata B...
-
1. Perkenalan Aku perempuan, dan kata orang aku manis. Kulitku cokelat dan mataku tidak sipit, badanku juga kecil dan tidak tinggi semampa...
-
5. Video Call Perdana Aku tahu mungkin banyak pembaca yang membayangkan seperti apa rasanya pacaran dengan komunikasi lewat bahasa yang be...