Kamis, 08 Maret 2018

"Stigma, 2016" (Part 2)

2. Anisa Kamil

Di bab perkenalan aku belum memperkenalkan namaku, aku Anisa Kamil, belum tua, masih 22 tahun sekarang, 2018. Pada tahun 2016, aku masih 20, masih unyu dan suka main. Aku sudah lulus sekolah SMA swasta di Surabaya, tidak berniat kuliah tetapi ingin terus mencintai hobiku, menari. Aku lahir di Surabaya 29 Februari 1996. Aku ulang tahun 4 tahun sekali, jadi aku terlihat paling muda kata teman-temanku. Lahir di tanggal itu merupakan suatu anugerah, semacam alasan yang bisa kubuat untuk menghemat umurku.

Aku lahir di tengah-tengah keluarga yang mencintai olahraga. Papa seorang mekanik yang kerjanya pindah-pindah tergantung proyek, tapi kalau sudah main tenis meja papa sudah bukan mekanik lagi, tapi atlet Nasional. Di rumah banyak piala papa memenangkan kejuaraan tenis meja, dari RT, RW, kelurahan, sampai kecamatan. Papaku adalah papa yang aku sayangi di dunia. Meski kadang tempramen karena aku bandel, tapi marahnya papa selalu hilang dalam semalam. Sebenarnya papa adalah seorang penyayang, apalagi ke anak perempuan satu-satunya. Kadang mamaku cemburu dan bertanya kepada papa mengapa dia selalu memanjakan anak gadisnya dimanapun dan kapanpun berada.

Mama, adalah mama yang super sibuk sebagai penata busana di sebuah event organizer. Mamaku cantik dan lebih tinggi dariku, kulitnya kuning dan rambutnya ikal. Mama selalu menuntut perfect dari diriku, terutama masalah fashion. Mama adalah mama yang paling comel di dunia karena aku sering tidak memakai baju yang benar ketika keluar rumah. Dulu aku tomboy, tomboy sekali, rambutku pendek, pakai celana borju lengkap dengan sabuknya, dan tidak lupa topi terbalik. Tapi mama yang hobi main volly mengajariku semenjak aku masuk SMA, untuk menjadi perempuan feminin. Saat itu aku sudah memikirkan bagaimana seorang perempuan menarik perhatian laki-laki. Dengan kata lain, aku ingin punya pacar.

Oiya, aku punya adik laki-laki, usianya 3 tahun di bawahku. Dia usil dan sering menggangguku ketika sedang main Playstation. Tapi itu dulu, waktu aku masih dengan rambut pendekku. Ketika aku dan adikku sudah sama-sama besar, kami seperti pacar. Adikku tinggi besar, sedangkan aku kecil dan tidak tinggi. Sering aku berjalan dengan adikku nonton bioskop, orang melihat aku sedang menggandeng pacarku. Dulu aku dan adikku sering adu pukul, satu bawa sisir, satu lagi bawa sapu. Tapi sekarang dia adalah laki-laki yang paling sayang kepadaku setelah papa. Adikku hobi sepak takraw, dia pernah ikut kejuaraan sampai kabupaten.

Aku, aku sendiri suka bermain badminton. Aku pernah beberapa kali ikut kejuaraan provinsi, tapi kalah. Aku mengidap sindrom demam panggung, kakiku selalu bergetar waktu di lapangan, jadi tidak pernah menang. Tapi aku punya hobi lain, menari. Aku menari sejak aku TK, papa dan mama memang menyekolahkan aku di sekolah yang banyak ekstrakulikulernya. Oiya, aku tidak pernah sekolah di sekolah Negeri, jaman dulu sekolah swasta fasilitasnya lebih terjamin. Sampai aku SMA, aku masih ikut latihan di sanggar tari milih teman mamaku, Bu Lestari.

Bu Les, begitu aku memanggilnya, mengajariku banyak tari-tarian. Kata temanku aku baling baik menarinya karena memang berlatih dari kecil. Bu Les biasanya memintaku untuk tampil kalau ada orderan tari. Aku tetap aku yang dulu, si perempuan dengan sindrom panggung. Tapi lama-lama Bu Les menumbuhkan kepercayadirianku untuk berdiri di tengah-tengah panggung dan menunjukkan kepada dunia bahwa aku bisa menari.

Dari hobi ini, ternyata aku menemukan cintaku. Seorang laki-laki dari Negeri antah-berantah dengan bahasa aliennya, bermata sipit, berkulit putih, rambut berponi, dan suaranya agak besar. Awalnya aku sama sekali tidak memikirkan soal pacaran, karena dalam hidupku aku hanya pernah pacaran satu kali dan disakiti. Sampai hari itu, dia meyakinkan aku dalam beberapa waktu saja, "please, be my girlfriend.." Saat ini aku sedang mengenang, indahnya saat aku dan dia tidak mengerti bahasa masing-masing dan dia berusaha untuk memakai bahasa Internasional untuk menyatakan perasaannya kepadaku. Manis, manis seperti gula jawa. Tapi kenyataannya hubungan jarak jauh itu menyakitkan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

"Stigma, 2016" (Part 5)

5. Video Call Perdana Aku tahu mungkin banyak pembaca yang membayangkan seperti apa rasanya pacaran dengan komunikasi lewat bahasa yang be...