3. Pertemuan Tak Terduga
Januari 2016 Bu Les memanggil aku dan temanku, Dika, untuk tampil menari memperkenalkan budaya Jawa Timur. Kata Bu Les, sanggar kami akan kedatangan turis asing dari Korea Selatan. Perlu diketahui, sanggar kami memang cukup populer di kota Surabaya, turis datang untuk dijamu tarian sudah bukan hal aneh lagi. Tiga bulan sekali Bu Les selalu mendapatkan rombongan tamu Asing, maksudku dari luar Negeri. Aku masuk di sanggar tari Bu Les mulai kelas 3 SMP, sampai akhir 2016. Aku sudah pernah tampil tiga kali di depan para tamu. Yang pertama di depan rombongan ilmuwan dari Australia yang sedang berlibur dari tugas mereka di Surabaya. Ternyata bukan orang Indonesia saja yang penasaran dengan budaya Negara lain, melainkan orang luar juga ingin tahun dengan budaya Indonesia yang mereka bilang "unik".
Yang kedua aku tampil di sekelompok rombongan tur orang Belanda, kira-kira waktu itu jumlahnya 15 atau 17 orang. Sanggar Bu Les memang masuk ke gang kecil, tapi ketika sudah di depan sanggar, tempatnya begitu luas dan asri. Bu Les bukan hanya mengajari muridnya menari, tapi juga memainkan berbagai alat musik mulai dari angklung sampai sasando. Yang ketiga aku menari di depan para rombongan Dikbud Kota Kediri. Selama itu Bu Les mengajari aku untuk menghilangkan sindrom demam panggung, dan Bu Les berhasil. Bisa dibilang aku jadi mbah-mbahannya di sangar tari Bu Lestari karena aku yang paling lama. Dika masuk ke sanggar dua tahun setelah aku masuk.
Pada hari itu Bu Les memintaku berlatih bersama Dika untuk menyamut kedatangan rombongan study tur dari Korea Selatan, seperti biasa aku mempersiapkan diriku bersama Dika. Tugasku ternyata tidak hanya berlatih untuk diri sendiri ternyata, Bu Les memintaku dan Dika mengajari adik-adik untuk menampilkan musik angklung. Ya begitulah, aku dan Dika juga mahir bermain angklung. Mendengarkan musik dari alat tradisional menurutku membuat hati tenang, seperti kembali ke alam, menyejukkan.
"Nak, Nisa, besok tampil ya," pinta Bu Les.
"Tamunya dari mana Bu," tanyaku.
"Dari Korea, rombongan banyak. Nggak perlu tarian yang sulit, pokoknya menghibur saja. Tari Lenggak Lenggok sudah cukup,"
"Oh, kamu sama Dika latih adik-adik juga ya. Mainkan lagu angklung yang biasa dibuat latihan itu saja. Nggak perlu pusing," kata Bu Les.
"Oke siap Bu," kataku.
"Nisa, Lenggak Lengok kan tarian anak kecil. Nggak perlu latihan kan kita sudah hafal, wong itu tarian yang kita ajarkan ke adik-adik hampir tiap minggu," gumam Dika.
"Wes lah Dik, pokoknya iyo wae. Bu Les wes tua, masa ngomong ora," (Sudah lah Dik, pokoknya iya saja. Bu Les sudah tua, masa mau ngomong nggak mau.)
Kira-kira aku, Dika, dan adik-adik tim angklung berlatih sekitar 5 hari. Aku masih ingat, itu hari Minggu pagi, adik-adik libur sekolah, dan kami menyambut tamu. Rombongan datang sekitar 7 orang, total 10 orang dengan gurunya. Aku tampil seperti biasa untuk tari pembuka, aku berdua dengan Dika menampilkan tari Lenggak Lenggok yang diminta Bu Les. Dan seperti biasa juga, para turis memotret sana sini, karena kami juga memakai make up sebagaimana penampilan tari.
Tiba giliran tim angklung, aku dan Dika kembali ikut naik pangung dengan adik-adik. Singkat cerita di akhir acara, kami dan turis menari bersama mengikuti alunan lagu daerah khas Jawa Timur. Aku kok senang ya, orang Korea yang biasanya aku lihat di drama sekarang bertebaran di depanku. Aku memang sedikit-sedikit mengerti bahasa Korea, karena aku suka melihat drama Korea lengkap dengan subtitle-nya. Aku sering mendengar kata "Daebak!" (Hebat!) saat mas-mas oppa menari bersama kami.
Setelah selesai acara, aku menghapus make up dan ganti baju. Aku kembali menjadi aku yang tidak memakai topeng. Dika mendadak pamit pulang duluan karena ada janji dengan pacarnya ke mall. Sementara aku masih tinggal di sanggar untuk bantu beres-beres cak To, tukang bersih-bersih di sanggar Bu Les.
"Bu, turisnya cuma sehari, to?" tanyaku.
"Nggak, satu minggu katanya,"
"Bu Les bisa bahasa Korea?" tanyaku penasaran.
"Yo ora to, ngawur. Kan ada penerjemahnya, (Ya nggak dong, ngawur. Kan ada penerjemahnya)" jawab Bu Les.
"Oh gitu. Ganteng ya Bu, kaya China,"
"Iyo, rupane podo kabeh, (Iya, wajahnya sama semua)," jawab Bu Les sambil tertawa kecil.
Aku istirahat seminggu setelah acara itu, aku tidak ke sanggar. Aku flu, karena musim sedang tidak jelas. Kadang pagi cerah, siang mendung, sore hujan deras, dan banjir. Kalau banjir, aku malas berangkat ke sanggar, karena jalan dari rumahku ke sanggar dipenuhi genangan air. Aku tidak bisa naik motor, jadi kadang aku naik ojek. Kalau adikku libur sekolah, dia yang mengantarku.
Leyeh-leyeh di tempat tidur pas hujan-hujan memang enak. Tulang-tulang punggungku ini perlu diistirahatkan. Apa aku tidak kerja? Aku kerja, jadi pelatih tari anak-anak di sanggar Bu Les. hehe. Sambil menunggu hujan reda mau ke warung mbak Ti, aku membuka Facebook. Ternyata ada pesan, dia belum jadi temanku di FB. Biasanya aku cuek. Tapi setelah aku lihat, profil dia memakai fotoku. Lho lho..
Aku belum baca pesannya, tapi aku buka dulu profilnya. Aku buka-buka foto demi foto, ada foto-foto dia dengan teman-teman sekolahnya. Salah satunya, foto dia dan teman-temannya saat mengunjungi sanggar Bu Les. Itu kan mas-mas oppa. Sekilas aku langsung bingung, ada apa dia add FB ku? Aku sempat membaca komen-komen temannya di foto saat dia berada di sanggar Bu Les. Karena aku sedikit tahu tentang huruf Korea, aku bisa membacanya, kalau bingung aku memakai jasa Google Translate secara gratis. Aku scroll ke bawah, aku belum kenal dia, dia belum kenal aku, tapi dia bilang ke teman-temannya kalau aku cantik. Ya, dia kan memakai fotoku jadi foto profilnya.
"nae yeochin yeppeunya (pacarku cantik kan)" tulis dia di kolom komentar kepada teman-temannya.
Aku kaget, aku langsung nimbrung komentar "igen naya? (ini aku?)" aku bermaksud menanyakan tentang fotoku yang dia pakai jadi foto profil. "Yes (ya)," jawabnya singkat.
Aku tidak percaya ternyata teman-temannya menanggapi ramai "sarangi himiran (kekuatan cinta)," celetuk salah satu temannya. Aku yang semakin merasa mereka ngawur bertanya dengan kekuatan bahasa Internasional ku "what do you mean? (apa maksudmu?),", Jantungku semakin tidak karuan waktu dia menuliskan komentar "don't touch my girl, joke joke haha (jangan sentuh pacarku, hanya bercanda haha)."
"haha gwiyeowoyo (haha, lucu)" komentarku.
"daedaboeulhae (jawablah!)" komentar temannya.
"aaa~ ne (iya)" komentarku. Teman-temannya rusuh memintaku untuk menjawab cinta dia. Tapi aku masih belum paham, orang ini siapa?
Aku mengkonfirmasi pertemanan, di langsung mengajak aku bicara lewat chat. Ige peiseubukyeseo cheos chaeting (ini pertama kali kita chat di FB):
"Hi! Do you remember me? (hai, apakah kamu ingat aku)" kata dia.
"Hi. Of course. How do you know my facebook? (Hai. Iya aku ingat. Bagaimana kamu tahu facebook milikku?)" kataku. Rasanya dag dig dug, nano nano. Senang, terharu, sedih, ingin menangis. Oiya, sebelum bertemu dengan dia, aku memang sudah bisa menulis huruf hangul tapi kadang bingung merangkai kalimat.
Dia menjelaskan bahwa dia mencari namaku di FB, dan jjang jjang, menemukannya. Aku hampir tidak percaya, ckckck. Ops, dia mulai mengeluarkan jurus gombal, yang biasa dipakai para lelaki.
"You are first pretty girl in Indonesia (kamu adalah wanita cantik pertama Indonesia yang aku temui)" katanya.
"I'm a little surprised when I look at your profil. Ah really? Thank you (Aku sedikit kaget waktu aku lihat profil FB kamu. Ah benarkah aku cantik? Terimakasih)" kataku.
Aku membalas gombalannya "neo neomu jalsaengkyeosseoyo (kamu juga ganteng)."
"Oh, thank you so much. But I'm not handsome in Korea (Oh, terimakasih banyak. Tapi aku tidak ganteng di Korea)," katanya.
Langsung to the point, dia tanya pertanyaan sensitif "Do you have boyfriend (Apa kamu punya pacar?)". Aku jawab tidak. Dia melanjutkan "Can you be my girlfriend (Bisakah kamu jadi pacarku)." Ini seperti sapuan ombak tsunami, atau badai florida di siang bolong. Kurang dari 1 jam aku menerima pertemanan, dia langsung menyatakan cinta. Apa ini cinta pandangan pertama? haha.
"Are you serius? Nongdamhajimaseyo (kamu serius? Jangan bercanda)" tanyaku.
"No. Really. I can't talk more (Tidak. Sungguh. Aku tidak bica bicara lagi)" jawabnya.
"Oke," jawabku. Aku menjawab "Oke" untuk membalas "I can't talk more", tapi dia menganngap aku sudah menerima cintanya. Dia bilang"I'm so happy (aku sangat bahagia)."
Lucu, tapi itu perkenalan singkatku dengan si dia. Si diaku sampai hari ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
"Stigma, 2016" (Part 5)
5. Video Call Perdana Aku tahu mungkin banyak pembaca yang membayangkan seperti apa rasanya pacaran dengan komunikasi lewat bahasa yang be...
-
3. Pertemuan Tak Terduga Januari 2016 Bu Les memanggil aku dan temanku, Dika, untuk tampil menari memperkenalkan budaya Jawa Timur. Kata B...
-
1. Perkenalan Aku perempuan, dan kata orang aku manis. Kulitku cokelat dan mataku tidak sipit, badanku juga kecil dan tidak tinggi semampa...
-
5. Video Call Perdana Aku tahu mungkin banyak pembaca yang membayangkan seperti apa rasanya pacaran dengan komunikasi lewat bahasa yang be...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.